ASN Banten Dilaporkan ke Polda, Terkait Dugaan Hina Presiden

ASN Banten Dilaporkan ke Polda, Terkait Dugaan Hina Presiden

Posted by

Pemilihan Umum(Pemilu) yang tak lama lagi akan berlangsung tampaknya menyisahkan sisi negatif lain dalam dunia maya. Kasus ujaran kebencian terhadap salah satu pihak terus saja terjadi. Kali ini, kasus dugaan penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo terjadi di Banten. Aparatur Sipil Negara(ASN) Pemprov Banten dilaporkan untuk dugaan penghinaan Presiden.

Sekretariat Bersama (Sekber) yang terdiri dari 28 orang relawan Jokowi di Banten melaporkan sebuah akun Facebook karenad diduga melakukan penghinaan terhadap Presiden Jokowi.

Facebook bernama Rendra Nila dilaporkan oleh relawan Jokowi ke Polda Banten.

Rendra Nila sendiri ternyata merupakan salah satu ASN Pemprov Banten yang masih aktif. Postingan Rendra Nila di Facebook tersebut pun akhirnya berujung pada pelaporan terkait tuduhan penghinaan terhadap Presiden.

Rudi Hermawan, Koordinator Sekber Relawan Joko Widodo Banten langsung membuat laporan ke Polda Banten terkait dengan postingan RN tersebut.

Dalam sebuah postingan di Facebook, RN membagikan postingan Tempo dan menambahkan kata-kata Dengan bahasa Sunda dengan paingan G*BL*G.

ASN seharusnya netral

Dalam Pilpres dan Pemilu lainnya, ASN memang diwajibkan untuk netral – hal ini juga merupakan aturan yang telah ditetapkan.

Postingan RN yang menggunakan bahasa Sunda dengan paingan G*BL*G menurut Rudi Hermawan sangat tidak pantas. Meskipun kata G*BL*G diberi bintang, tetapi ia berpendapat itu merupakan kata tak pantas khususnya karena terlapor merupakan ASN.

Rudi Hermawan juga mengatakan bahwa laporan ini tidak semata-mata hanya untuk kepentingan kelompoknya. Ia mengatakan laporan ini juga sekaligus pembelaan relawan terhadap demokrasi sehingga demokrasi dapat berjalan dengan baik.

Terkait laporan ini, Kasubid II Ditkrimsus Polda Banten, AKBP Budi Barata mengatakan akan segera menindaklanjuti laporan yang masuk. Pihak Polda Banten akan segera memanggil terlapor untuk mengecek kebenaran dan klarifikasi dari yang bersangkutan.

Kasus sejenis bukan yang pertama terjadi, kasus sejenis beberapa kali terjadi dan terulang. Tentu saja melakukan kritik bukan merupakan suatu hal yang dilarang, tetapi tentunya kritik yang disampaikan harus sesuai dengan norma-norma yang ada.

Kritik-lah sesuatu dengan bijak, tanpa cacian dan ujaran kebencian bila tidak ingin berurusan dengan hukum. Salam.