Pejabat DPMPTSP Kab. Tangerang Beda Pendapat soal Izin PT LSI

Posted by

Tangerang – Pejabat di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Tangerang beda suara soal izin tiga gedung produksi yang dimiliki PT Lautan Steel Indonesia, sebuah pabrik pengolahan baja di Kawasan Industri Balaraja, Desa Talagasari, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang.

Pejabat DPMPTSP Kabupaten Tangerang yang tak kompak itu adalah Kasi Informasi dan Pengaduan Agus dengan Kabid Perizinan Indra. Bukannya saling menguatkan, pernyataan kedua pejabat yang berada di bawah naungan satu lembaga ini saling bertolak belakang.

“Berdasarkan data yang ada di kita, untuk masalah perizinan sejauh ini tidak ada masalah,” jelas Agus saat ditemui di ruangannya, Rabu (8/3/2017).

“Untuk pemanfaatan lahan dan IMB (ijin mendirikan bangunan) sudah legal,” tambahnya.

Dengan yakinnya, Agus juga menyebutkan nomor surat keputusan diterbitkannya izin PT LSI tersebut.

“Dokumen IMB nomor 640/727 tanggal 18 Desember tahun 2012, dan surat ijin gangguan atau HO nomor 517/31 tanggal 22 Januari tahun 2013,” ucap Agus.

Sebelumnya, Kabid Perizinan DPMPTSP Kabupaten Tangerang Indra menyebutkan pihaknya tidak pernah menerbitkan izin untuk penambahan tiga gedung produksi PT LSI karena pabrik tersebut tidak bisa menjelaskan dan menunjukkan bukti kepemilikan dan asal usul tanah yang mereka ajukan IMB-nya.

“Izinnya kami hold, karena mereka tak bisa menjelaskan asal-usul riwayat tanah yang mereka mohonkan,” kata Indra di Aula Utama DPMPTSP Kabupaten Tangerang, Selasa (7/3/2017).

“Kami memberi empat catatan untuk PT LSI, di antaranya PT LSI harus menunjukan riwayat kepemilikan lahan. Apabila lahan yang dimohonkan merupakan lahan milik pengairan, tolong mintakan penjelasan resmi soal itu. Kemudian kalau lahan itu bukan milik pengairan, LSI harus segera merubah data yang ada di BPN. Kemudian setelah dirubah, LSI juga harus merubah site plan,” terang Indra lagi.

Menurut Indra, permohonan IMB PT LSI diajukan sekitar 2014-2015, namun hingga 2017 PT LSI tidak bisa memenuhi empat syarat yang diajukan sebagai kelengkapan diterbitkannya IMB.

Terkait tiga gedung produksi PT LSI, Dinas Sumber Daya Air Provinsi Banten mengakui pihaknya pernah menerbitkan izin pemanfaatan lahan kepada PT LSI, namun izin tersebut sudah lama habis dan PT LSI diminta mengembalikan kondisi lahan seperti semula.

“(Izin PT LSI) itu sudah lama habis. Kalau tidak salah izin mereka cuma sampai 2010-2011. Dan sejak itu sudah tidak diperpanjang lagi,” kata Eki Rizal, salah seorang staf bagian perizinan Dinas Sumber Daya Air Provinsi Banten saat dihubungi Banten Hits, Senin (6/3/2017).

Eki Rizal juga menegaskan, izin pemanfaatan lahan yang pernah diterbitkan instansinya bukanlah izin untuk mendirikan bangunan. Bahkan, kata Eki, salah satu klausul dalam izin pemanfaatan lahan yang diterbitkan untuk PT LSI disebutkan, PT LSI tak boleh merubah kondisi lahan, seperti melakukan pengurukan.

BACA JUGA: Dinas Sumber Daya Air Banten Akui PT LSI Sudah Tak Berizin

Direktur Operasional PT LSI Andi Sucipto membantah tiga gedung produksi miliknya tak memiliki izin. Dia bersikukuh izin pemanfaataan lahan dari Dinas Sumber Daya Air dan Permukiman Provinsi Banten yang masa berlakunya sudah habis merupakan legalitas yang sah untuk PT LSI membangun gedung produksi.

“Kelengkapan izin kami sudah diperiksa kemarin (awal Maret 2017) oleh dinas tata ruang (Kabupaten Tangerang),” terang Andi dalam wawancara dengan Banten Hits di Sport Center Imperial Aryaduta Lippo Karawaci, Kamis (2/3/2017) malam.

Namun, ketika ditanya soal IMB untuk tiga gedung produksi PT LSI yang berada di bagian belakang, Andi tidak tegas mengakui bangunan tersebut memiliki IMB atau tidak. Pria asli Tiongkok dengan Bahasa Indonesia yang masih terbata-bata ini hanya menegaskan pihaknya sudah berupaya menempuh prosuder yang benar untuk pengajuan IMB tersebut.

Tiga gedung produksi tak berizin ini berada di bagian belakang PT LSI dan berdampingan langsung dengan permukiman warga Kampung Nambo, Desa Talagasari, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang. Satu-satunya akses warga menuju ke danau itu berupa tembok beton yang dibuka selebar dua meteran. Selain akses itu sekeliling lokasi terkurung tembok beton.

Raseli (78), warga Kampung Nambo, RT 07/01, Desa Talagasari, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang mengatakan, sebelum berdiri gedung-gedung produksi baja milik PT LSI, lokasi tersebut merupakan sawah milik almarhum Arti, orangtuanya.

“Dulu saya yang garap sawahnya. Lalu tahun 80-an sawahnya dijual karena kebanjiran terus,” terang Raseli saat ditemui Banten Hits di rumahnya, Jumat (3/3/2017).(Rus)